Silent Love [BaDai]
Created by : Gadiz Azizah Pratiwi ( @Gadisssap ) dan Qonita Sari ( @Qonitast )
Awan
kumulus dengan bentuknya yang khas terlukis rapi di atas kaki-kaki langit
dengan warna biru cerahnya yang menenangkan. berpadu dengan serat-serat kuning
emas yang terpancar dari si penguasa siang yang selalu pongah. keangkuhannya
menembus tiap kaca-kaca bening bangunan bernuansa cream-cokelat. SMA
BadaiStatic menunjukan kemewahannya.
Di ruangan
paling timur dilantai dua tepat berhadapan dengan lapangan basket SMA
BadaiStatic terlihat siswi perempuan tengah sibuk menikmati kesunyian yang ada.
Bel pulang sekolah sudah dibunyikan dari 1 jam yang lalu dan sekarang hanya ada
beberapa siswa/i saja yang masih berada di SMA BadaiStatic mungkin ada
pelajaran tambahan atau ekstrakulikuler.
Tapi tidak
dengan siswi manis yang satu ini. Dia tidak mengikuti pelajaran tambahan satu
ekstrakulikuler. Dia tengah sibuk
memperhatikan sosok laki-laki yang menjabat sebagai ketua OSIS SMA BadaiStatic
serta kapten TIM Basket. Entah sejak kapan kebiasaan ini mulai menggeluti(?)
dirinya.
“Ndai, belom pulang?” Seseorang
memanggilnya. Angel rupanya sahabat Cindai.
“Belom, duluan aja,” tanpa aba-aba
Angel pun langsung pergi meninggalkan Cindai diruangan itu sendiri. Cindai
tengah sibuk memainkan handpone-nya.
“Bagas ayodong! Gimana sih kok lemes
bgt”
Ucapan tersebut mampu mengalihkan
perhatian Cindai dari handphone-nya. Apalagi saat mendengar nama tersebut
–Bagas- . Cindai langsung memfokuskan matanya pada satu titik dilapangan Basket
tersebut. Senyum mengembang dibibir mungilnya saat objek yang sedang
diperhatikannya juga ikut menoleh kearahnya.
“Cindai? Ngapain lo disitu? Ngga
pulang?” ujar Bagas setengah berteriak sambil mendribble bola berwarna oranye
tersebut.
“Belom Gas. Lagi ada urusan,”
“Yaudah nanti pulang bareng gue aja
ya bentar lagi selesai kok gue latihan basketnya. Lagipula ngga baik anak cewek
kayak lo pulang sore-sore begini”
Cindai tersenyum malu untungnya saja
Bagas tidak ada didekatnya saat ini. Kalau Bagas ada dihadapannya kini pasti
dia malu karena rona merah di pipinya.
Tidak ada yang tahu tentang
bagaimana perasaan Cindai pada Bagas kecuali Cindai sendiri dan Tuhan. Bagas
dan Cindai tidak lebih dari seorang teman tetangga di kompleks rumahnya. Cindai
juga sebenarnya jarang sekali bertegur sapa dengan Bagas. Mungkin pada hal-hal
tertentu saja. Cindai menyimpan rasa yang lebih pada Bagas.
2 Bulan belakangan ini Cindai selalu
mperhatikan Bagas diruangan itu setiap hari. Ia betah berlama-lama disitu
asalkan objek yang diperhatikannya adalah Bagas. Bagas sosok yang mampu memahat
hatinya. Sosok yang selalu membuat Cindai susah tidur semalaman. Sosok yang
selalu Cindai perhatikan secara diam-diam. Cindai mengagumi-nya. Senyumnya…
Punggungnya… Mata indahnya… Tapi itu semua hanya bisa Cindai rasakan sendiri.
Tak mampu Cindai mengungkapkannya.
Hanya senyumnya yang mampu memberi isyarat.
***
Pandangan Cindai terfokus pada
lapangan basket yang sedari tadi ia perhatikan. Dia selalu betah berada dalam
kesunyian seperti pada jam istirahat kali ini. Seperti biasa, Cindai tangah
berada diruangan kosong paling timur dilantai 2 SMA BadaiStatic.
Tapi sayangnya sosok yang biasanya
selalu ia perhatikan tidak Nampak pada lapangan basket tersebut. Ia bingung
kemana Bagas?
“Cindai!” seseorang memanggilnya.
Sepertinya dia kenal dengan suara itu. Cindai menoleh Bagas rupanya.
“Kenapa?” ujar Cindai tersenyum.
“Gapapa Cuma pengen disini aja,
pantes lo betah banget disini ternyata dari sini semua sudut SMA BadaiStatic
keliatan ya”
“Haha iyadong ini tempat favorite
gue kalo lagi jenuh sama tugas dan pelajaran sekolah Gas. Ohiya tumben lo ngga
latihan Basket? Kenapa” Kini posisi mereka berdiri membelakangi balkon.
Bagas tersenyum kecut. Wajahnya
Nampak pucat.
“Gas? Lo gapapa? Kok pucet gitu?”
ucap Cindai. terdapat nada ke-khawatiran pada ucapan Cindai tersebut.
“Gapapa kok, Ohiya gue mau nanya”
ucap Bagas berusaha tersenyum
“Apa?”
“Apa alasan yang bikin lo betah di
tempat ini? Apa ada seseorang yang lo perhatiin dari sini?” Bagas seperti bisa
menebak pikiran Cindai
“Eng..iy.. Iya ada seseorang yang
gue perhatiin dari sini. Dia sosok yang udah ngisi hati gue belakangan ini.
Senyumnya manis banget. Matanya indah. Dia sosok yang udah bikin gue……… Jatuh
cinta” ujar Cindai menerawang
“Boleh gue tau siapa orangnya?”
“El…”
Percakapan mereka terpotong oleh bel
tanda masuk berbunyi.
“Udah masuk Ndai, gue duluan ya”
ujar Bagas lalu bergegas pergi meninggalkan Cindai.
***
2 minggu sudah Cindai tidak melihat
sosok Bagas di sekolahnya lagi. Dia juga tak pernah bertemu dengan Bagas. Di
kelasnya pun dia tertulis “Alfa” alias tidak ada keterangan selama 2 minggu
ini.
Hari ini sepulang sekolah Cindai
memutuskan untuk kerumah Bagas. Ingin mengetahui lebih jelas info tentang
Bagas. Ada sebenarnya?
Cindai turun dari angkutan umum lalu
jalan beberapa meter dari halte angkutan umum menuju rumah Bagas. Sesampainya
dirumah Bagas rumahnya Nampak sepi. Pagar rumahnya pun terkunci. Cindai menekan
bel yang ada ditembok samping Pagar tersebut.
Sejurus kemudian sosok wanita paruh
baya dengan keluar dari pintu rumah dan segera membukakan pagar.
“Maaf ada apa ya non?” ujar wanita
paruh baya tersebut yang notabe-nya adalah pembantu rumah Bagas
“Maaf Bi, Bagasnya ada?” ujar Cindai
Wanita tersebut Nampak bingung saat
Cindai bertanya tentang Bagas.
“Gini aja, mending non masuk dulu
nanti saya jelaskan biar enak ngobrolnya” Wanita itu mengajak indai masuk
kedalam rumah Bagas. Tapi semenjak Cindai masuk kedalam rumah Bagas dia tidak
melihat sosok Bagas.
“Bentar ya non saya ambil sesuatu
dulu” ujar wanita tersebut lalu meninggalkan Cindai yang berada di ruang tamu.
Tak berapa lama Bi sum –wanita paruh
baya- tersebut datang terlihat membawa sesuatu. Ternyata secarik kertas.
“Maaf sebelumnya non, apa non yang
namanya Cindai?” ujar Bi Sum ragu-ragu
“Iya bi, ada apa?”
“Mending non baca surat ini sendiri
ya, den Bagas titip sama saya katanya kalo ada seorang perempuan bernama Cindai
nyariin dia, suruh baca aja isi surat ini. Saya juga ndak tau apa isinya non”
Bi sum langsung memberikan surat tersebut pada Cindai.
Teruntuk Gloria Chindai Lagio…
Hai Cindai yang chubby yang pinter
yang suaranya ngangenin:3
Mungkin ini bisa jadi tulisan
terakhir gua buat lo,
Karena gue udah ngga ada di dunia
lagi sama lo…
Kita udah beda alam…
Maaf karena gue udah ninggalin lo
Ndai,
Penyakit in udah lama ada ditubuh
gue Paru-paru basah…
Dan sekarang gue udah ga kuat…
Maaf gue gapiernah cerita ini ke elo
Sebenernya gua masih pengen ada di
dunia ini sama lo
Tapi takdir Tuhan berkata lain Ndai
Gue seneng banget bisa kenal lo di
dunia ini
Gue juga seneng bisa dikasih waktu
buat deket sama lo
Sebenernya gue punya rahasia lain
selain penyakit gue ini
Lo pengen tau apa itu?
Rahasia gue yang lain itu sebenernya
gue sayang sama lo Ndai
Sayaaaaang banget bahkan melebihi
apapun yang ada di dunia #halahh
Tapi maaf gue gapernah jujur tentang
perasaan ini ke elo
Waktu itu soalnya lo pernah bilang
kalo ada orang yang udah ngisi hati lo
Dan gue juga tau waktu gue ga akan
lama lagi
Maafin gue ya kalo gue pengecut
hehe:D
Lo jangan sedih ya ditinggal cowok
super duper kece kayak gue:’)
Jangan pernah lupain kenangan kita
juga ya Ndai
Gue selalu ada dideket lo kok. Lo
juga selalu ada dihati gue.
Lo cinta pertama gue Ndai
Makasih ya Ndai untuk untuk semua
kebaikan lo selama ini di dunia
Gue sayang sama lo…
-Bagas RDS-
Tak terasa bulir bulir air mata
Cindai turun membasahi pipi chubby-nya. Kertas itu juga basah. Saat itu juga
Cindai segera pergi ke pemakaman Bagas.
Derasnya hujan menemani tangis
Cindai selama perjalanan. Tak disangka percakapannya dengan Bagas 2 minggu yang
lalu adalah percakapan terakhir mereka. Tak disangka senyum Bagas 2 minggu yang
lalu adalah senyum yang terakhir yang pernah Cindai lihat. Cindai tak pernah
menyangka akan kehilangan sosok Bagas…………………untuk selamanya.
Sesampainya di pemakaman Cindai
langsung mencari makam bernama nisan “BAGAS RAHMAN DWI SAPUTRA” Cindai menangis
sejadi-jadinya dibawah derasnya hujan. Cindai tak menyangka mengapa ini harus
terjadi? Hujan semakin deras tetapi Cindai masih duduk tergulai diatas gundukan
tanah merah sambil memeluk nisan Bagas.
Sambil memeluk nisan Bagas diatas
gundukan tanah Cindai menyesal tidak sempat mengatakan perasaannya pada Bagas.
Dia terlambat. Sekarang tidak ada lagi sosok yang bisa dia perhatikan di ruangan
timur SMA BadaiStatic. Tidak ada lagi sosok yang bisa membuat pipinya merona
merah. Sosok yang telah mengisi hatinya kini telah pergi. Tiada lagi orang yang
selalu mengganggu pikirannya dimalam hari dan membuatnya susdah tidur. Dan
orang itu Bagas. Walupun baru beberapa minggu hatinya didekap hangat oleh sosok
itu.
_END_
Komentar
Posting Komentar