"Haruskah ada Cincin di Jari Tanganku?" Part 02 (END)

             Berminggu-minggu Dimas dan Michelle sering jalan bersama. Mereka terlihat semakin akrab. Begitu aneh, lelaki asing itu ternyata membuat warna baru di hidup Michelle. Dan tanpa Michelle sadari, ia seringkali merasakan detak jantung yang begitu cepat saat bersama Dimas, saat bertatapan dengan Dimas, saat Dimas memegang lembut pipinya, saat Dimas membelai lembut rambutnya, saat Dimas memegang tangannya.
             " Michelle....." Kata Dimas yang sedang duduk bersama Michelle di taman yang indah dengan bunga-bunganya.
             " Iya? Ada apa?" Jawab Michelle sedikit penasaran.
             " Apa aku boleh minta sesuatu ke kamu?" Tanya Dimas dengan memegang tangan Michelle lembut. Debaran jantung Michelle pun berdetak kencang.
             " Minta tolong? Minta tolong apa? Kok kayaknya penting?" Jawab Michelle.
             " Mungkin bagimu ini terlihat aneh. Mungkin juga bagimu ini tidak terlalu penting. Aku ingin kamu dan aku selalu bersama. Aku ingin kamu selalu ada menemaniku, menemani hidupku. Apa kamu mau?" Tanya Dimas.
             " Mak...maksud kamu apa? Aku tidak mengerti." Jawab Michelle yang sedikit kaget.
             " Ya begitulah. Mungkin bagimu ini terlalu cepat. Tapi, semua ini memang datang begitu cepat. Semua mengalir begitu saja. Aku menyukaimu. Tak sekedar suka, aku juga menyayangi dan mencintaimu. Apakah kamu juga mempunyai rasa yang sama sepertiku?" Tanya Dimas.
             " Em..mm.. A..aku tidak mengerti. Sebenarnya, semenjak ada kamu, hidupku seketika berubah. Berubah dengan warna yang begitu indah dan dengan senyuman kebahagiaan. Aku bingung sendiri dengan perasaanku ini. Apa ini......cinta?" Kata Michelle yang juga memegang tangan Dimas kembali.
            " Aku tidak tahu. Yang tahu perasaanmu adalah dirimu sendiri, orang lain tak tahu." Jawab Dimas.
            " Iya, memang. Tapi, aku bingung. Apa ini memang cinta....... Namun apakah ini cinta sejati atau hanya cinta musiman saja? Aku bingung sendiri dengan perasaanku. Perasaanku sendiri sulit untuk aku tebak." Kata Michelle.
            " Cinta sejati? Cinta musiman? Kita membicarakan tentang perasaan!" Jawab Dimas dengan mengelus lembut rambut Michelle.
            " Tetapi, terkadang perasaan itu bisa menjadi rasa cinta." Kata Michelle.
            " Cinta sejati? Mungkin tak ada yang namanya cinta sejati ataupun abadi. Di dunia ini tak ada yang abadi. Mungkin yang ada hanya cinta tulus. Cinta musiman? Kalau kamu memang yakin, jalani saja." Jawab Dimas.
           " Iya, mungkin ada benarnya juga perkataanmu. Dan sekarang, aku sudah berhasil menebak perasaanku sendiri. Aku mempunyai rasa sama sepertimu, Dim.." Kata Michelle.
           " Apa itu benar?" Tanya Dimas.
           " Apakah wajahku terlihat seperti bercanda?" Jawab Michelle dengan senyum manisnya.
           " Sepertinya tidak ada.. Lalu, apakah kamu mau menjadi kekasih di hidupku?" Tanya Dimas.
           " Hm..mm.. Aku mau, Dim.." Jawab Michelle.
           " Terimakasih Michelle, terimakasih! Hari ini sungguh membuatku merasa sangat bahagia, bahagia karenamu." Kata Dimas yang kemudian memeluk Michelle.
           " Sama-sama Dimas. Aku ingin kamu menjadi yang terakhir yang menemani hidupku." Jawab Michelle.
           " Pasti, Chell. Aku akan selalu dan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, untukku, dan untuk kita. Tapi...." Kata Dimas.
          " Kok ada tapinya? Tapi kenapa?" Tanya Michelle bingung.
          " Tapi, maafkan aku karena caraku menyatakan cinta ke kamu mungkin terlihat begitu aneh. Aku tidak membawa kado atau hadiah untukmu. Dan.....aku tidak membawakanmu cincin seperti lelaki-lelaki lain yang kebanyakan menyatakan cintanya dengan memberikan cincin indah di jari sang perempuan. Aku tidak membawakanmu hadiah cincin, karena uang tabunganku masih belum terkumpul terlalu banyak. Maafkan aku, Chell." Kata Dimas.
          " Kamu gila ya? Aku tidak mengaharapkan cincin atau hadiah seperti apa yang kamu maksud. Untuk menyatakan cinta juga tidak harus membawakan hadiah dan cincin kan? Apakah harus ada cincin di jariku saat lelaki menyatakan cintanya kepadaku? Tidak! Yang aku ingin hanya ketulusan, kejujuran, dan kepercayaan. Ketulusan, kejujuran, dan kepercayaan itu lebih dari sekedar hadiah dan cincin. Karena ketulusan, kejujuran, dan kepercayaan sulit dicari, sulit ditemukan. Dan aku harap ketulusan, kejujuran, dan kepercayaan ada pada dirimu." Jawab Michelle sedikit panjang lebar, hehe.
          " Maafkan aku. Benar apa yang kamu katakan. Aku memang gila, karena cinta..." Kata Dimas.
          " Gila? Karena cinta? Cinta jangan dijadikan alasan." Jawab Michelle.
          " Hmm.. Terimakasih kamu telah menyadarkanku. Mungkin, dengan kamu ada di hidupku, aku menjadi lebih mengerti apa arti dari ketulusan, kejujuran, kepercayaan, dan cinta." Kata Dimas.
          " Aku juga berharap kita bisa selalu bersama apapun keadaannya. Semoga kamu ada makhluk yang diciptakan dan dikirimkan Tuhan kepadaku." Jawab Michelle.
          " Amin.. Terimakasih, aku mencintaimu Michelle." Kata Dimas.
          " Aku pun juga sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku, ya." Jawab Michelle.
          " Itu pasti. Aku selalu berusaha untuk menjaga dan melindungimu." Kata Dimas. Lalu Dimas dan Michelle pun saling berpelukan. Semua memang terjadi begitu saja, dan semua itu menjadi cinta. Cinta...satu kata yang penuh akan maknanya.


                                        ----- TAMAT -----
hehe thankyouu guys kalian yang udah mau baca cerita aku. Maaf kalo ceritanya belepotan atau jelek atau gak nyambung lah menurut kalian hehe maklum saya bukan penulis hihi*-* Semoga kalian suka yaa!;) jangan lupa kasih pendapatnya donnggg hehe okee thankyou guysss, kalo ada waktu kosong pasti bikin cerita lagi kokkkkk hihihihi muahh;* byee guyss loveeee <3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Datang Terlambat

Coklat Panas