"Haruskah ada Cincin di Jari Tanganku?" - Part 01


           Siang hari yang panas. Di restaurant Michelle memesan beef steak, nasi goreng seafood, dan jus alpukat. Michelle menikmatinya dengan lahap, mungkin karena terlalu lapar. Michelle hanya duduk sendiri bersama makanan dan minumannya di meja. Di restaurant itu ada banyak pengunjung yang tidak datang sendirian. Ada yang ditemani keluarganya, bahkan kekasihnya. Namun tak sengaja mata Michelle mengarah ke seorang lelaki muda yang cukup tampan. Lelaki itu duduk sendirian sepertiku. Tetapi lalu Michelle mengalihkan pandangannya. Michelle abaikan saja, toh dia juga bukan siapa-siapa Michelle.
            “ permisi, boleh saya duduk di samping anda?”
            Michelle pun terkaget tiba-tiba mendengar suara dari dekat. Saat Michelle menoleh, tanpa disangka, ternyata lelaki yang duduk sendiri tadi.
            “ Tapi kamu siapa ya? Kita belum pernah kenal.” Jawabk Michelle.
            “ Jadi aku nggak boleh duduk di samping kamu nih? Apa orang yang tidak kamu kenal tidak boleh duduk di sampingmu?” Kata lelaki itu.
            “ Bukannya begitu. Tapi aku takut saja. Maaf, ya aku takut saja kalu ternyata kamu orang yang berniat jahat padaku.” Jawab Michelle.
            “ Apa orang yang tidak dikenal berarti orang jahat? Maaf kalau aku membuatmu berfikiran seperti itu. Tapi, aku tidak seperti yang kamu fikirkan kok.” Kata lelaki itu.
            “ Baiklah, maaf kalau aku berfikiran yang salah tentang kamu. Silahkan duduk.” Jawab Michelle.
            “ Terimakasih. Perkenalkan, namaku Dimas. Nama kamu siapa?” Kata Dimas sambil menjabatkan tangannya padaku.
            “ Namaku Michelle.” Jawab Michelle dengan menjawab jabatan tangan dari Dimas.
            “ Kok kamu tadi sendirian disini?” Tanya Dimas.
            “ Kamu menanyakan dirimu sendiri ya? Haha.” Jawab Michelle.
            Dimas terdiam. Dan Mihelle pun berhenti tertawa.
            “ Yayaya, aku memang datang sendiri. Tapi bukan berarti aku tak memiliki teman.” kata Dimas.
            “ Oh, aku memang sendiri juga disini. Aku bosan di rumah. Orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya.” Jawab Michelle sedikit bercurhat.
            “ Kamu harusnya bersyukur memiliki orangtua seperti orangtuamu. Mereka bekerja juga untuk mendapat uang dan itu tentunya juga untuk kamu. Tak seperti aku yang kurang beruntung darimu.” Kata Dimas namun sedikit bersedih.
            “ Maksud kamu apa? Iya aku tau itu. Tapi, aku juga perlu waktu bersama dengan orangtuaku. Tetapi, orangtuaku kerja berangkat pagi-pagi dan harus pulang malam hari.” Jawab Michelle.
            “ Iya aku bisa mengerti perasaanmu. Tapi tetap saja kamu lebih beruntung dariku. Aku berbeda denganmu, aku tak seberuntung dirimu. Orangtuaku telah berpisah 5 tahun yang lalu. Dan aku tinggal sendiri di rumah. Dan aku juga harus mencari uang sendiri.” Kata Dimas.
            “ Mencari uang sendiri? Wow anak hebat. Ternyata benar, masih ada yang kurang beruntung sepertiku dan seharusnya aku bersyukur. Maafkan aku.” Jawab Michelle.
            “ Ah sudah lupakan, tidak apa-apa. Aku sudah tebiasa begini.” Kata Dimas.
            Tak terasa mereka mengobrol lumayan lama hingga sore datang.
            “ Dim, sudah sore. Aku pulang dulu ya hehe terimakasih siang ini kamu sudah menemaniku disini.” Kata Michelle sambil tersenyum.
            “ Oh iya aku juga terimakasih. Tapi kita masih bisa ketemuan lagi kan?” Tanya Dimas.
            “ Hm ya tentu boleh lah. Aku malah senang, karena aku menjadi tidak kesepian hehe.” Jawab Michelle.
            “ Oke, terimakasih ya. Aku boleh minta alamat rumah kamu? Besok malam aku ingin mengajakmu pergi.” Kata Dimas
            “ Oke rumahku di perumahan Strawberry blok B no. 02. Di jl. Mawar.” Jawab Michelle.
            “ Kalau begitu besok aku jemput kamu jam 7 malam ya.” Tanya Dimas.
            “ Iya. Aku duluan ya, bye…..” Kata Michelle sambil meninggalkan meja dan kursi restaurant.
            “ Bye…..” Jawab Dimas sambil melambaikan tangannya.
            Saat sampai di rumah, Michelle merenung di kamar memikirkan sosok lelaki yang baru saja ia kenal, yaitu Dimas.
            “ Aneh, kita baru saja bertemu namun sudah akrab begitu saja.” Kata Michelle sambil mengelus-elus boneka kesayanganku.
            “ Ah sudahlah, kenapa aku tiba-tiba memikirkan dia? Dia kan hanya orang asing yang tiba-tiba datang di kehidupanku.” Kata Michelle lagi.
            “ Cewek itu.. Tak tau kenapa, aku jadi teringat dia. Dia begitu cantik dan manis. Dan kelihatannya dia anak yang baik……… ah sudahlah” Kata Dimas yang juga sedang merenung di kamarnya.
            Dan saat malam harinya, Michelle tergopoh-gopoh mencari-cari pakaian yang cocok untuknya. Setelah beberapa pakaian yang dia keluarkan dari lemarinya, akhirnya dia sudah menemukan pakaian yang cocok untuknya. Gaun dengan panjang yang hampir mengenai lututnya dan berwarna merah muda yang lembut.
            “ Nah ini dia bajunya baru cocok. Waduh udah jam 7!!!” kata Michelle yang sedang bercermin lalu melihat jam dinding di kamarnya. Tak lama kemudian, Michelle mendengar suara gas mobil dan bunyi klaksonnya.
            “ Itu suara mobil siapa ya? Apa mungkin mobilnya Dimas?” Kata Michelle setelah mengintip dari jendela. Lalu ia segera keluar dari kamarnya dan menuju ke luar rumahnya.
            “ Eh kamu sudah datang Dim, aku kira tadi siapa hehe.” Kata Michelle setelah membukakan pintu rumahnya. Dan detik berikutnya Dimas tidak berkata apa-apa. Ia melihat Michelle dari atas sampai bawah, dan kembali lagi dari bawah ke atas.
            “ Dim? Dimas? Kamu kenapa? Kok lihatnya gitu banget.” Tanya Michelle.
            “ Eng.. enggak kok, nggak kenapa-kenapa. Kamu cantik sekali malam ini.” Jawab Dimas sedikit gugup.
            “ Ah kamu bisa saja. Cewek cantik tentu saja wajar kan? Hehe.” Kata Michelle.
            “ Iya cewek memang cantik pastinya, tidak ganteng. Tapi kamu cantiknya berbeda. Dari semua cewek yang aku kenal, Cuma kamu yang paling cantik sebenarnya.” Kata Dimas.
            “ Ah kamu. Terserah kamu lah. Terimakasih ya” jawab Michelle.
            “ Sama-sama. Yaudah, yuk masuk ke mobil.” Kata Dimas sambil membukakan pintu mobilnya untuk Michelle.
             Saat perjalanan, di mobil mereka kehabisan kata-kata. Di dalam mobil suasana begitu hening, tidak seperti suara di jalanan yang begitu ramai.
            “ Orangtua kamu masih belum pulang?” tanya Dimas yang membuka percakapan.
            Hmm belum. Mereka biasanya pulang agak larut malam.” Jawab Michelle datar, namun jantungnya berdetak kencang. Ada apa ini? Kemudian mereka sedikit bercakap-cakap dengan sedikit candaan. Dan tak terasa, mereka telah sampai di depan restaurant. Restaurant dimana mereka tadi siang saling bertemu untuk yang pertama kalinya. Dimas membukakan pintu mobil.
            “ Maaf ya aku ngajak kamu di restaurant ini. Karena, aku paling sering mendatangi restaurant ini.” Kata Dimas setelah duduk bersama Michelle di kursi makan.
            “ Santai saja. Tidak apa. Aku juga sering sekali disini.” Jawab Michelle dengan senyuman manisnya.
            “ Mau pesan apa mbak,mas?” Tanya seorang perempuan yang sempat memotong pembicaraan Dimas dan Michelle. Perempuan itu ya siapa lagi kalau bukan waitress,hehe.
            “ Nasi goreng seafood.” Jawab Dimas dan Michelle dengan bersamaan. Waitress pun sempat kebingungan.
            “ Lalu minumnya? Tanya waitress kembali.
            “ Jus alpukat!” Mereka kembali menjawabnya dengan bersamaan. Lalu waitress meninggalkan mereka berdua.
            “ Kamu juga suka nasi goreng seafood dan jus alpukat?” Tanya Dimas.
            “ Iyap. Itu makanan dan minuman kesukaanku. Kamu juga suka kan?” Jawab Michelle.
            “ Iya aku juga suka. Kok bisa samaan begini ya? Hehe. Jangan-jangan....... Jangan-jangan kita berjodoh......” Kata Dimas
            “ Ah kamu. Mungkin saja ini  hanya kebetulan. Setiap persamaan tak berarti cinta, setiap persamaan tak berarti jodoh. Terkadang, perbedaan pun bisa menjadikan satu.” Jawab Michelle.
            “ Iya iya aku kan hanya bercanda. Kalaupun kita berjodoh, tidak apa-apa juga kan?” Kata Dimas.
            “ Tidak tahu.” Jawab Michelle dengan datar. Michelle sedikit kesal. Disamping karena Dimas, Michelle juga kesal karena makanan belum kunjung datang juga. Melihat Michelle dengan wajah yang agak kesal, Dimas pun menghentikan percakapannya. Dimas takut membuat Michelle semakin kesal.

             -----Tunggu Part 02 nya yaa. See you guys!;)----- 
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Datang Terlambat

"Haruskah ada Cincin di Jari Tanganku?" Part 02 (END)

Coklat Panas